Expecting Child Journey : Program Hamil Pertama

December 04, 2013 0 Comments A+ a-

28 Agustus 2013
Setelah tak kunjung hamil, akhirnya saya memutuskan ke dokter kandungan. Sedikit cerita tentang usaha saya sebelum ke dokter kandungan bisa dibaca disini

Hari ini untuk pertama kalinya saya pergi ke dokter kandungan. Niat yang sudah muncul sejak beberapa bulan lalu, namun baru saya laksanakan sekarang. Kebetulan saat ini saya sedang pulang kampung untuk mengambil ijazah suami yang tertinggal, jadi saya pikir sekalian aja. Lagipula biaya konsultasi disini lebih murah dibanding kontrol di Jakarta, dan saya menemukan beberapa rekomendasi dokter kandungan dari teman-teman disini.

Dokter spesialis kandungan didominasi laki-laki, itulah salah satu alasan saya agak segan pergi cek ke dokter. Tambah lagi saya yakin kandungan saya baik-baik saja, tidak ada keluhan sakit saat haid ataupun gejala-gejala sakit lainnya dari kista, tumor. Saya menduga belum berhasilnya kami punya momongan adalah karena faktor stress dan gizi. Juga karena belum beruntung. Tapi karena suami terus menerus penasaran, dan selalu menyinggung kata-kata dokter kalau kami membicarakan tentang kegagalan konsepsi, akhirnya saya meminta mama untuk mengantar saya ke dokter.

Saya memilih dokter perempuan, sebutlah Dr.Bunga Sp.Og yang menurut info seorang teman yang pernah konsul kesana katanya praktek sore hari disalah satu apotek. Saat gugling mencari informasi, di forum saya dapati juga dia praktek dibeberapa RS dan apotek lainnya. Karena bingung, akhirnya kita memutuskan untuk pergi ke salah satu apotek mencari informasi.

Ternyata dr.Bunga sudah tidak praktek di apotek yang disebutkan teman saya, dan kita diberi informasi untuk pergi ke apotek Ad. Tapi saya tidak jadi konsultasi sore itu karena kemungkinanbaru mendapat giliran sekitar jam 22.00. Akhirnya saya didaftarkan untuk konsultasi esok harinya jam 8 pagi. Tapi masih belum tahu dapat nomor antrian berapa.

Maka pagi ini saya ditemani nenek pergi kesana. Apotek yang didalamnya ada ruang praktek dan ruang tunggu. Cukup bersih dan cat apoteknya terlihat masih baru, mungkin baru direnovasi 1 tahun lalu.

Saat datang, saya langsung bertanya pada petugas pencatat untuk mencari tau saya dapat nomor antri berapa. Seorang petugas yang berkerudung pink menjawab saya dengan acuh, sedangkan petugas yang berkerudung putih sedang mencatat riwayat pasien yang duduk didepannya. Saya masih belum dapat nomor antrian, petugas tau saya belum pernah periksa disitu dan hanya menyuruh saya menunggu. Sedikit bingung, tapi saya ikuti aja suruhannya.

Eh, ternyata saya dipanggil petugas pencatat setelah calon pasien yang duduk didepan mereka tadi selesai dicatat riwayatnya. Lalu kini giliran saya. Masih dengan sikap yang jutek mereka menanyai data diri saya dan riwayat siklus haid saya selama 3bulan terakhir. Sambil menyerahkan kartu pasien untuk saya, mereka menyarankan saya untuk minum air setidaknya 4gelas. Saya simpulkan itu tandanya mereka akan melakukan USG perut pada saya. Dan saya segera keluar sebentar untuk cari sarapan sekaligus minum sebanyaknya.

Kebetulan ada tukang bubur sekitar 3meter dari apotek itu. Saya memilih sarapan ditemani nenek saya yang ternyata sedang puasa :) ..Buburnya enak meski saya harus susah payah menelannya karena panas. Yang jelas, saya meminum air yang disajikan cuma-cuma disitu hingga 2 gelas. Selesai makan bubur saya beli aqua ukuran sedang. Dan setelah makan bubur ditambah meneguk 2 gelas air, saya mulai merasakan perut saya penuh. Tapi masih ada 1 botol air lagi yang harus saya habiskan.

Tunggu punya tunggu dari mulai jam 8, sang dokter ternyata belum datang juga. Pasien yang datang tidak banyak karena hari ini memang jam prakteknya singkat jadi dibatas. Sekitar jam 9  ada seorang wanita berusia bebrapa tahun lebih tua dari mamaku, turun dari sebuah mobil, aku langsung tau itu dokternya. Mungkin karena aura dokter itu beda ya dengan pasien, haha. Dia masuk dan melewati jajaran pasian sambil tersenyum. Aku buru-buru menghabiskan sisa air di botolku.

Pasien pertama baru saja masuk, dan aku tiba-tiba ingin buang air kecil! Alamaaaaak,,,aku ingin ke toilet tapi sepertinya sebentar lagi giliranku. Jadi aku terpaksa menahannya daripada antrianku diserobot...  :(

Benar saja, aku dapat urutan ke 4. Saat namaku dipanggil, aku buru-buru masuk sendirian, nenekku menunggu diluar saja. Nah bertemulah aku dengan dokter Bunga.. Beliau dokter senior, dan karakternya tidak banyak bicara. Ia melihat riwayat siklus haid selama 3bulan terakhir dan berpendapat siklus haidku yang 35hari itu masih normal, dan menilai saya gangguan hormon jika siklus saya lebih panjang dari 40hr.

Lalu saya diminta naik ke meja periksa untuk di USG perut. Perut saya diolesi semacam gel oleh perawat, lalu dokter mulai mengecek rahim saya. Alhamdulillah di rahim tidak terlihat ada penyakit. Hanya ada penebalan dinding rahim yang bisa jadi haid atau bisa juga berujung hamil. Saya divonis subur, dan kandungan saya baik.

Atas dasar itulah saya diresepkan vitamin yang sudah populer saya baca dari forum2 ibu hami, santa e 400iu dan folavit 400iu. Saya bertanya makanan apa yang sebaiknya dimakan, saya disarankan untuk makan yang bergizi karena dasarnya rahim saya sudah subur.

Keluar dari ruang periksa, saya membayar biaya konsultasi dokter dan USG sebesar Rp 80,000. Jumlahnya persis seperti yang saya baca di forum ibu hamil. Lalu saya menebus resep vitamin di apotek tersebut, santa E dan folavit masing-masing 30tablet dengan total Rp 166,000.

Setelah itu, saya dan nenek segera keluar dan pulang. Saya memberitahukan suami bahwa saya hanya diresepkan vitamin, dan alhamdulillah kandungan baik-baik saja. Saya juga memberitahunya bahwa bulan November nanti jika masih belum hamil saya disuruh konsultasi kembali ke dokter untuk promil berikutnya.