PROAKTIF VS REAKTIF dalam relasi pasangan percintaan (sebuah pengingat)

Desember 08, 2018 0 Comments A+ a-

PROAKTIF VS REAKTIF dalam relasi pasangan percintaan (sebuah pengingat)

Filed under: CINTA — by bangjeki @ 11:48 am
Tags: 

Saat itu hari yang sangat melelahkan. Setelah menyiapkan segala keperluan untuk dua workshop yang akan dilakukan bersamaan mulai esok hari, mempersiapkan bahan ajar untuk perkuliahan minggu depan, menyusun laporan kepribadian klien yang akan diambil esok hari, aku berpikir kalau tugasku sudah selesai. Aku bersiap untuk istirahat, karena jam sudah menunjukkan pukul 19.30. “Semoga besok lancar,” pikirku. Tiba-tiba handphone-ku berbunyi dan kulihat namanya tertera disitu. “Senangnya ditelpon saat sedang lelah seperti ini” adalah pikiran pertamaku. Siapa yang menelepon? Pacarku tentu saja.

“Halo, kamu lagi apa?” tanyaku langsung padanya. Dia diam saja. Aku mengulangi kembali pertanyaanku. Entah kenapa dia tetap terdiam. Aku mulai kesal dan bertanya,”Kok diam saja?” Aku mendengar ia menghela nafasnya berulangkali sambil tetap terdiam. Aku kemudian ikut terdiam dan menunggu ia bicara. Setelah beberapa detik kemudian, ia bertanya dengan pelan tapi tegas,”Kemana saja kamu hari ini?” Aku terdiam dan mencoba mengingat-ingat apa yang kulakukan hari ini kemudian menjawab, “Menyiapkan workshop dan tugas-tugas lainnya. Kenapa emangnya?” Dia kembali bungkam. Aku bingung dan bertambah kesal. “Kenapa sih?” tanyaku dengan suara yang meninggi. “Ingat hari ini kamu janji apa?” tanyanya balik. Berusaha mengingatnya, tapi tak kunjung kutemukan jawabannya. “Apa sih? Ngomong aja langsung. Ngga usah pakai rahasia-rahasiaan segala. Aku lagi cape,” bentakku. “Kamu janji ngajarin aku interpretasi tes ini. Aku sudah nuingguin kamu dari jam 5 dan ngga ada kabar. Sementara besok harus dikumpulkan interpretasinya. Sekarang aku gatau harus gimana.” Suaranya mulai meninggi juga, tapi terdengar masih berusaha menahan kemarahannya. Aku menyadari kalau itu kesalahanku, tapi aku tidak terima kalau aku disalahkan begitu saja. Seharusnya dia mengingatkan! Ngga ngerti apa aku hari ini sibuk banget. Masa gitu aja ngga bisa sendiri sih? adalah pikiran-pikiran yang muncul di kepalaku. Semua itu kusampaikan padanya dengan terus terang. Tentu saja ia balik marah. “Tapi kamu sudah janji.” Aku kemudian menutup teleponku dengan sebelumnya mengatakan,”Terserah kamu ajalah. Aku sibuk hari ini, dan sekarang udah cape banget. Kerjain aja sendiri.. aku ga bisa bantu.”


Contoh kejadian di atas adalah sesuatu yang jamak terjadi di dalam relasi pasangan. Pada pasangan baru, sudah cukup lama, baru menikah, bahkan sudah lama menikah, situasi seperti tadi terjadi berulang. Apa yang sebenarnya menjadi sebab terjadinya pertengkaran sepasang kekasih tersebut, yang mengaku saling mencintai dan sudah lama menjalin tali kasih? Respon/tingkahlaku yang REAKTIF. Seringkah kamu melakukannya dalam kehidupan sehari-harimu? Kamu terbawa perasaan, terbawa suasana, terpancing oleh tingkah laku orang lain. Kamu mengucapkan kata-kata yang sebenarnya tidak ingin kamu ucapkan. Kamu melakukan tindakan yang akan kamu sesali belakangan. Kemudian kamu berpikir,”Aduh, seandainya saja aku berpikir dulu sebelum melakukannya, aku ngga akan bereaksi seperti itu.” Tapi tentu saja sudah terlambat. Peluru sudah ditembakkan, anak panah telah melesat dari busurnya, dan nasi telah menjadi bubur. Efeknya sudah terlihat dan terasa: pasanganmu menjadi marah, kalian bertengkar hebat, saling mengungkit masalah-masalah yang telah berlalu, bahkan sampai mengucapkan kata-kata yang kasar.

Semuanya karena respon/perilaku reaktif.
Perilaku reaktif adalah perilaku/respon yang spontan terhadap suatu emosi atau keadaan. Perilaku reaktif muncul karena dorongan mendesak untuk segera bereaksi terhadap suatu situasi atau seseorang yang menstimulasi. Hal ini muncul dari dorongan dasar mahluk hidup (termasuk hewan) untuk bereaksi Fight or Flight terhadap stimulus yang berbahaya. Flight tentu saja berarti melawan dan Flight di lain pihak adalah melarikan diri.


Coba ingat saat kamu melihat seekor anjing galak sedang berdiri di depanmu sambil menggonggong dan menunjukkan taringnya. Apa yang akan kamu lakukan? Hampir semua orang akan segera menghindar dan lari ke tempat yang aman. Jarang sekali ada orang yang berhenti dan mengamati situasi secara detil (apakah anjing tersebut terikat rantai, atau jaraknya sebenarnya cukup aman, atau apakah dia ada di balik pagar?).

 Insting manusia adalah untuk berespon secara REAKTIF, tanpa memikirkannya secara matang. Dalam kasus berhadapan dengan anjing, menghindar/menjauh adalah respon yang tepat. Bayangkan kalau kamu berpikir terlebih dahulu dan menimbang-nimbang apa yang seharusnya kamu lakukan. Hasil akhirnya mungkin adalah saya akan menjengukmu di rumah sakit saat lukamu dijahit dan kakimu disuntik rabies.


Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Apakah saat bersama dengan pasangan anda adalah serupa dengan situasi yang membahayakan keselamatan dirimu? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Pasanganmu bukan seekor anjing galak atau seekor ular berbisa yang siap menerkammu, bukan? Pasanganmu adalah seorang laki-laki/perempuan yang mencintaimu, menyayangimu, memperhatikanmu, ingin bersamamu, dan memiliki kenangan indah bersamamu untuk beberapa waktu, lamanya. Seberapa membahayakankah kehadirannya? Sebegitu mengancamkah dia? Apakah ia memang menakutkan bagimu? Kalau kamu menjawab YA pada salah satu pertanyaan tadi, segera PUTUSKAN dia. Jika kamu mau, laporkan ke pihak yang berwenang, seperti polisi atau pawang hewan dari kebun binatang setempat. Kalau jawabannya adalah TIDAK pada semua pertanyaan tadi, pertanyaan yang menyusul berikutnya adalah: Kenapa kamu berespon REAKTIF terhadapnya?

Berikut ini adalah beberapa perilaku reaktif yang umum ditunjukkan oleh pasangan. Apakah kamu melakukan sebagian atau bahkan semua perilaku tersebut? Cobalah untuk mengingatnya.
- Saat ia lupa untuk menjemputku pulang dari belanja, aku memarahinya dan membentaknya.
- Saat ia lupa menjemputku pulang dari belanja, aku mendiamkannya selama sehari dan tidak mau menerima teleponnya atau membalas smsnya.
- Saat aku sedang punya masalah dan menjadi bĂȘte, aku berharap ia menelponku atau mau mendengarkan ceritaku. Saat bertemu, ia malah sibuk menceritakan apa yang ia lakukan sehari ini. Aku kemudian mendiamkannya.
- Saat aku marah padanya karena sesuatu hal yang kuanggap penting, dan ia menelepon sambil bertanya,”Kamu marah ya sama aku karena aku…. (masalahnya)?” Aku menjawab,”Tidak kok. Aku baik-baik saja” sambil menggerutu,”Kok dia ga bisa nangkap ya aku marah sama dia? Harusnya dia tahu dong kalau aku marah, kok malah nanya?” Kemudian ia berkata,”Benar ya, tidak ada apa-apa, kamu ngga marah. Kalau begitu, aku mau ngetik dulu ya. Bye” baru kemudian aku meledak dan memarahinya.
- Saat ia meledak marah padaku karena kesalahanku, walau aku menyadarinya, aku balik marah padanya.
- Saat aku marah karena kesalahannya, aku diam saja karena takut akan menyakiti hatinya, Kusimpan saja sendiri perasaan marah itu sambil berharap ia tidak akan melakukannya lagi.
- Ketika aku merasa kesal karena ia mengatakan sesuatu yang menyinggungku, aku membalas dengan menyindirnya.
- Ketika aku merasa kesal karena ia mengatakan sesuatu yang menyinggungku, aku membalas dengan membentaknya
- Ketika aku merasa kesal karena ia mengatakan sesuatu yang menyinggungku, aku hanya bisa tersenyum simpul sambil menelan kesalku.

Yang tertulis di atas hanyalah sebagian kecil tingkah laku reaktif yang sering kita lakukan dalam relasi dengan pasangan kita. Bisakah kamu memperpanjang daftarnya dengan contoh-contoh yang terjadi dalam relasimu selama ini?
REAKTIF menjadi perilaku yang seringkali dilakukan dan berulang. Sebagian alasannya adalah karena itu memuaskan diri kita setelah melakukannya, sebagian karena kita tidak mau kalah, sebagian karena tidak terpikirkan perilaku yang lain, dan berbagai macam alasan lainnya. Sementara apa hasil/efek dari perilaku reaktif terhadap diri kita, pasangan kita, dan relasi kita? Jawabannya: konflik yang bertambah besar, perasaan mendendam, perasaan tidak puas dan ingin membalas, perasaan direndahkan, beban emosi karena menyimpan permasalahan, ketidakpuasan pada perilaku pasangan, dan penyesalan di kemudian waktu. Tanya pada dirimu: apakah itu yang kamu inginkan mewarnai hubunganmu dengan pasanganmu?
Kalau tidak REAKTIF, bagaimana aku harus bereaksi seharusnya? Bagaimana cara lepas dari respon yang sifatnya spontan? Bagaimana agar tidak lagi mengandalkan insting dalam berespon terhadap dia yang kucintai?


JADILAH PROAKTIF!!!
Proaktif berarti mampu bertindak berdasarkan prinsip dan nilai pribadi, bukan semata bereaksi berdasar emosi atau suasana. Proaktif berarti bertanggungjawab terhadap respon/perilakumu. Proaktif berarti mengalahkan dorongan insting untuk tampil spontan dan menghayati apa yang akan dilakukan dengan matang. Proaktif berarti menjadi manusia yang menggunakan pikiran dan perasaannya secara menyeluruh dan optimal. Proaktif berarti dewasa dalam bersikap dan berprilaku. Proaktif itu mudah, tapi butuh kesadaran dan waktu, juga latihan.
Kemampuan untuk proaktif berlandaskan pada lima berkat yang hanya dimiliki manusia, dan tidak dimiliki oleh tumbuhan dan hewan. Apa saja mereka?

Pertama adalah Self awareness (kesadaran akan diri): kemampuan untuk mengambil jarak dari diri dan hidup kita dan mengamatinya sebagai pengamat yang objektif. Kita bahkan dapat mengamati apa yang kita pikirkan dan rasakan. Inilah yang dilakukan saat kita sedang merenung, menghayati, merencanakan, dan menentukan langkah ke depan.

Conscience/kata hati adalah berkat yang kedua. Kata hati terdiri dari moralitas dan etika, seperti suara dari datang dari lubuk hati yang terdalam. Saat kamu marah dan melampiaskan pada pasanganmu, hatimu berkata’”Jangan lakukan itu. Aku mencintainya. Apa yang kamu lakukan itu salah.” Hanya saja saat berprilaku reaktif, kita memilih untuk mengabaikannya.

Ketiga: Imajinasi, yaitu kemampuan untuk membayangkan, mengandaikan, merencanakan, dan memvisikan masa depan, seperti apa yang kita INGINKAN, bukan seperti apa yang biasa kita lakukan. Daripada memarahi atau mencela atau menarik diri, berkat ketiga ini memungkinkan manusia untuk menemukan begitu banyak pilihan perilaku yang lebih positif dan dewasa.
Independent will atau Kehendak bebas menjadi berkat yang keempat. Didalamnya terkandung makna yang sangat esensial: Kekuatan untuk mengambil tindakan.
Yang terakhir adalah humor.Humor muncul sebagai hasil dari penggunaan keempat berkat sebelumnya. Kesediaan untuk tertawa, bahkan pada saat terburuk atau melakukan kesalahan menjadi bukti kekuatan manusia, bukan sebaliknya.
Bagaimana caranya menjadi manusia proaktif, terutama dalam hubungan dengan pasangan? Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Ketahuilah dan yakinlah bahwa dirimu ditentukan olehmu, bukan oleh orang lain atau situasi di sekelilingmu. Termasuk didalamnya adalah pikiranmu, perasaanmu, dan perilakumu, semua ditentukan olehmu. Saat kamu kesal karena dia lupa menjemputmu, perasan kesal tersebut bukan disebabkan keterlambatannya, tapi karena kamu MEMILIH untuk merespon keterlambatannya dengan rasa kesal. KAMU adalah penguasa dirimu.
2. Sadari bahwa kamu dapat MEMILIH responmu terhadap dunia. RESPONSIBLE terdiri dari dua kata: RESPONSE dan ABLE, yang berarti DAPAT MEMILIH RESPON. Kembali ke contoh keterlambatan pasangan, kamu dapat memilih responmu, bukan selalu harus kesal. Bisa saja kesal, marah, atau malah bahagia, senang, atau respon yang lain. Kamu dapat MEMILIH untuk memarahinya saat akhirnya ia datang, atau MEMILIH untuk menanyakan alasannya dan mencoba memahaminya.
3. Menciptakan sebuah tombol PAUSE (JEDA) antara Stimulus/suasana/perlakukan orang lain pada dirimu dengan Respon/perilakumu. Ambil waktu untuk menggunakan kelima berkat sebagai manusia yang kamu miliki untuk menemukan dan memilih respon apa yang akan ditampilkan olehmu.
Bagaimana menggunakan kelima berkat sebagai manusia yang kamu miliki saat berada dalam situasi yang “mengancam” atau berpotensi konflik, dimana secara instingtif kamu ingin bereaksi spontan?
Pertama, tarik nafas panjang berulang kali sampai kamu merasa lebih tenang. Biarkan stimulus yang dibawa oleh rangkaian syaraf dalam otak kita tidak berhenti sampai otak reptil dan amygdala (pusat insting dan emosi), melainkan dibawa ke pusat berpikir level tinggi yang ada di prefrontal cortex. Ketenangan yang dicapai lewat relaksasi singkat melalui pernafasan akan memberikan waktu bagi kamu untuk mengambil jeda antara stimulus dengan respon.


AMATI DIRIMU DAN SITUASIMU SAAT INI secara objektif: Apa yang terjadi, siapa yang membuatku tersinggung, apa respon biasaku, apa yang kupikirkan tentang situasi ini, dan lain-lain?
DENGARKAN KATA HATIMU: apakah marah dan menghakiminya atas kesalahannya adalah sebuah keputusan yang tepat dan benar?
BAYANGKAN PILIHAN-PILIHAN RESPON LAIN yang mungkin dapat kamu lakukan selain secara spontan memarahi pasanganmu. Pikirkan prinsip 10-10-10: apakah apa yang akan kamu lakukan tidak akan kamu sesali 10 MENIT kemudian, 10 HARI kemudian, dan 10 BULAN kemudian. Berpikirlah dan bayangkanlah efek jangka pendek dan panjangnya.
PILIHLAH DAN BERTINDAKLAH SESUAI DENGAN APA YANG TERBAIK YANG DAPAT KAMU PILIH UNTUK SEMUA PIHAK, bukan hanya untuk dirimu sendiri.
Dan yang terakhir: LIHATLAH SISI LUCU DAN INDAHNYA dari situasi saat ini: kamu punya waktu berbelanja lebih lama, kamu bisa mencandainya dengan berkata:”Ketiduran ya?” atau lainnya. Setelah kamu menggunakan semua kekuatan yang kamu miliki untuk memilih responmu, yakinlah bahwa itu adalah pilihan yang PROAKTIF dan terbaik.
4. Berikan umpan balik secara konstruktif kepada pasanganmu. Fokuslah pada PERILAKUNYA, bukan orangnya. Sampaikan dalam formula:”Saya merasa….. ketika kamu….” Jangan memulai dengan “Kamu” karena itu bertendensi menyalahkan dan menyudutkan. “Saya merasa cukup kesal ketika kamu terlambat menjemputku sesuai janjimu. Apa yang terjadi? Maukan kamu memberitahukannya padaku?”
5. Diskusikanlah apa yang kamu harapkan dan apa yang dia harapkan dalam situasi serupa yang mungkin akan terjadi di masa datang. Sepakati beberapa hal yang bertujuan untuk mengantisipasi konflik di masa datang yang disebabkan situasi serupa. “Kalau salah satu dari kita akan terlambat karena alasan apapun, sebaiknya segera memberitahukan lewat SMS, telpon, atau YM agar sama-sama tahu.” “Saat salah satu dari kita berjanji, yang lainnya akan mengingatkan sehari/setengah hari/sejam sebelumnya.”
6. Sampaikan bahwa apapun yang terjadi saat ini, tidak mengurangi rasa cinta dan sayangmu padanya. Kesalahan wajar terjadi, dan itu justru menjadi pembelajaran yang konstruktif bagi hubungan kalian berdua. Jangan lupa ucapkan “Aku sayang kamu” di akhir.
Berprilaku PROAKTIF bukanlah sifat yang diturunkan, melainkan ketrampilan yang harus dipelajari dan dilatih. Berprilaku proaktif menunjukkan bahwa kita terus mengembangkan diri sebagai manusia yang diberikan berkat yang melimpah dariNya. Karena, seperti yang disampaikan Scott Peck, tentang cinta yaitu bahwa CINTA ADALAH KATA KERJA:
“Hasrat untuk mencintai itu belumlah cinta…. Cinta adalah sebuah tindakan yang dilandasi kehendak/kemauan- yaitu intensi dan tindakan. Kehendak juga berarti pilihan. Kita tidak harus mencintai. Kita MEMILIH untuk mencintai.”
Selamat mencintai dirimu dan mencintai pasanganmu. Selamat berkembang menjadi pribadi yang luar biasa melalui proses pembelajaran dalam hubungan cinta kalian.
Bandung, 1 Desember 2009
Sebuah catatan yang mengingatkanku untuk terus menerus berkembang dalam cinta.
Sumber:
Covey, Stephen R. 1997. The 7 Habits of Highly Effective Families. New York: FranklinCovey
Taylor, Maurice & McGee, Seana. 2000. The New Couple: Why The Old Rules Don’t Work and What Does. San Fransisco: Harper San Fransisco